|
C elah langit-langit dan celah bibir merupakan cacat bawaan yang sering ditemukan. Dalam 750 kelahiran, 1 anak kemungkinan menderita celah bibir dan langit-langit. Hal ini dipengaruhi oleh faktor genetik, efek obat-obatan yang bersifat teratogenik (etanol, talidomid, fenitoin), dan pengaruh lingkungan (sindrom amniotic bad, diabetes melitus pada kehamilan, defisiensi folat, paparan rokok). Kelainan ini dapat merupakan bagian dari suatu sindrom seperti sindrom Pierre Robin, sindrom velocardiofacial, dan sindrom lainnya.
Penderita celah palatum sering mempunyai masalah pada jalan nafas, masalah pemberian nutrisi, masalah pendengaran (akibat otitis media efusi) maupun masalah bicara. Sebanyak 20-50% penderita celah palatum yang telah menjalani operasi rekonstruksi langit-langit (palatoplasti) tetap mempunyai suara yang sengau (insufisiensi velofaring = VPI) sehingga penderita mengalami gangguan komunikasi dengan sekitarnya. Suara sengau ini diakibatkan oleh adanya kebocoran pada katup velofaring (bagian dari tenggorok setinggi hidung) karena langit-langit yang tidak terbentuk sempurna sehingga saat penderita mengucapkan konsonan mulut (p,b,d,t,k,g,f,v,s,z,sh,th,ch,j), udara bocor lewat hidung. Penderita celah langit-langit sebaiknya menjalani operasi palatoplasti saat berusia 18 bulan. Teknik operasi yang dipilih tergantung beratnya celah, apakah celah mengenai seluruh langitan lunak dan keras, atau hanya celah langitan lunak, atau celah langitan yang tersembunyi (celah submukosa). Walaupun telah menjalani operasi, sebanyak 20-50% penderita masih menderita suara sengau. Karena itu setelah berusia 3-4 tahun, penderita harus menjalani pemeriksaan untuk mengevaluasi adanya suara sengau. Bila penderita dewasa (>16 tahun) belum menjalani operasi, maka operasi palatoplasti dapat dikombinasi dengan teknik operasi lain untuk penanganan masalah suara sengau. Pemeriksaan suara sengau dilakukan oleh berbagai dokter ahli dari berbagai bidang, seperti ahli terapi wicara (THT komunitas), ahli endoskopi THT, ahli bedah plastik rekonstruksi THT serta ahli radiologi. Ahli terapi wicara akan memeriksa adanya suara sengau dengan menilai suara penderita (resonansi, artikulasi dan inteligibilitas) saat mengucapkan satu kata maupun kalimat. Pemeriksaan dengan alat nasometer dapat menilai derajat suara sengau dalam bentuk skor nasalens. Alat ini berupa suatu headset yang berisi satu lempeng pemisah antara bagian mulut dan hidung yang dilengkapi mikrofon pada masing-masing bagian yang berfungsi merekam energi akustik yang keluar dari mulut dan hidung saat penderita membaca teks-teks kalimat yang sudah disediakan (uji hantu, uji gajah). Energi akustik ini akan diolah oleh perangkat komputer dan dihitung perbandingan antara energi akustik hidung dan energi akustik total (hidung+mulut). Untuk menilai kondisi anatomi celah langit-langit dan adanya kebocoran pada katup velofaring, diperlukan suatu alat nasofaringoskopi fleksibel, yang dimasukkan melalui lubang hidung sampai rongga faring setinggi hidung (nasofaring). Pemeriksaan ini dilakukan oleh ahli endoskopi THT bersama dengan ahli terapi wicara. Dengan penderita mengucapkan satu kata atau kalimat, dinilai seberapa luas kebocoran katup velofaring. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah videofluoroskopi, yang dilakukan oleh ahli radiologi bersama ahli terapi wicara. Pemeriksaan ini dilakukan dengan bantuan sinar x-ray dan kontras dalam berbagai potongan film. Dengan melakukan berbagai macam pemeriksaan di atas, maka dapat ditentukan derajat kelainan suara sengau dan luasnya kebocoran katup velofaring sehingga dapat dipilih teknik penanganan, apakah cukup dengan terapi wicara atau diperlukan tindakan operasi. Bila derajat suara sengau masih ringan dapat ditangani dengan terapi wicara yang intensif selama 3 sampai 6 bulan. Bila dengan terapi wicara tidak ada perbaikan maka dipertimbangkan untuk operasi. Pada suara sengau yang berat dengan kebocoran katup velofaring yang luas maka diperlukan suatu tindakan operasi. Dokter ahli plastik rekonstruksi THT akan memilih teknik operasi tertentu berdasarkan luasnya kebocoran katup velofaring. Dengan teknik operasi yang sesuai, angka keberhasilan dapat mencapai > 90%. Setelah tindakan operasi, maka penderita masih membutuhkan latihan wicara dibantu oleh ahli terapi wicara. Dr. Dumasar
|